ARTIKEL HIPERTENSI DAN RETENSI URINE


ARTIKEL HIPERTENSI DAN RETENSI URINE


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Patofisiologi yang
dibina oleh Ibu Ns. Ira Rahmawati, S.Kep,. MNSc






Nama Kelompok :
1.       ELLY PURWANTI MANURUNG       P17220194059
2.       LATIFATUL HASANAH                    P17220194063
3.       FAJAR YUDITH ARDIANSYAH        P17220194072
4.       VALINA YASHINTA SUKMAWATI  P17220194086






POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
D-III KEPERAWATAN LAWANG
MEI, 2020

PATOFISIOLOGI GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN

A.    Anatomi Fisiologi Sistem Perkemihan
            Sistem perkemihan atau sistem urologi merupakan suatu .sistem
dimana terjadinya proses penyaringan durah sehingga darah bebass dari zat-
zat yang tidak dipergunakan oleli tubuh dan menyerap zat yang masih
di pergunakan oleh tuhuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh
larut dalam air dan dikeluarkan berupa urine  (Nuari & Widayati, 2017).
Menurut (Nuari & Widayati, 2017), fungsi utama system perkemihan pada tubuh manusia adalah melakukan ekskresi dan eliminasi sisa-sisa metabolism tubuh serta sebagai regulator volume darah dan tekanan darah, sebagai regulator konsentrasi plasma dari beberapa ion, sebagai stabilisator pH darah, sebagai detoksifikator racun Bersama dengan organ hepar/ginjal.
Menurut (Suharyanto & Madjid, 2009)), sistem perkemihan terdiri atas beberapa organ yaitu ginjal, ureter, vesika urinaria (kandung kemih), dan uretra.

1.      Ginjal

Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak di kedua ssi kolumna vertebralis. Pada orang dewasa, ginjal panjangnya 12-13 cm, tebalnya 6 cm, dan beratnya 120-150 gram. Ginjal terbagi menjadi bagian luar yang disebut korteks dan bagian dalam disebut medulla. Ginjal memeroleh suplai darah dari arteri dalam renalis yang merupakan cabang dari aorta abdominalis. Glomerular Foltration Rate (GFR) adalah jumlah plasma yang melewati glomerulus akan disaring ke dalam nefron dengan jumlah yang mencapai sekitar 180 liter filtrat per hari. Urine yang dihasilkan oleh proses filtrasi kurang lebih 1,5 liter per hari. Fungsi ginjal yaitu memertahankan volume dan komposisi cairan ekstra sel dalam batas-batas normal.

2.      Ureter

Ureter merupakan saluran yang panjangnya 10-12 inci, terbentang dari ginjal sampai kandung kemih yang terdiri dari otot polos. Fungsi satu-satunya ureter adalah menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kemih.

3.      Vesika urinaria (Kandung Kemih)

Kandung kemih adalah satu kantung berotot yang dapat mengempis, terletak di belakang simfisis pubis. Kandung kemih memiliki tiga muara, yaitu: dua muara ureter dan satu muara uretra. Fungsi kandung kemih yaitu sebagai tempat penyimpanan urine sebelum dikeluarkan oleh tubuh.

4.      Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang dapat mengembang, berjalan dari kandung kemih sampai keluar tubuh. Panjangnya pada wanita 1,5 inci dan pada laki-laki sekitar 8 inci. Pada laki-laki, kelenjar prostat yang terletak di bawah leher kandung kemih mengelilingi uretra di sebelah posterior dan lateral.

B.     Gangguan Sistem Perkemihan
1.      Hipertensi
a)      Definisi Hipertensi
Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (Silent Killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya.
Di Amerika, diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita hipertensi.5 Apabila penyakit ini tidak terkontrol, akan menyerang target organ, dan dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, serta kebutaan. Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestive heart failure, dan 3 kali lebih besar terkena serangan jantung (Rahajeng & Tuminah, 2009).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. 
Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat.6,7 Di Indonesia masalah hipertensi cenderung meningkat.8 Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,3% penduduk menderita hipertensi dan meningkat menjadi 27,5% pada tahun 2004 (Rahajeng & Tuminah, 2009).
Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk strokeinfark miokard (serangan jantung), gagal jantunganeurisma arteri (misalnya aneurisma aorta), penyakit arteri perifer, dan penyebab penyakit ginjal kronik. Bahkan peningkatan sedang tekanan darah arteri terkait dengan harapan hidup yang lebih pendek.
b)      Etiologi Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu :
1)      Hipertensi primer/esensial adalah hipertensi yang tidak atau belum di ketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Tedapat 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan, hiperativitas susunan simpatis,  sistem renin-angiotensis, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraselular, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok serta polisitemia.
2)      Hipertensi sekunder. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vascular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom cushing, feokromositomo, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubung dengan kehamilan, dan lain-lain.
c)      Manifestasi Klinik Hipertensi
Hipertensi diduga dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Seringkali hipertensi disebut sebagai silent killer karena dua hal, yaitu:
1)      Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala khusus. Gejala ringan seperti pusing, gelisah, mimisan, dan sakit kepala biasanya jarang berhubungan langsung dengan hipertensi. Hipertensi dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah secara teratur.
2)      Penderita hipertensi, apabila tidak ditangani dengan baik, akan mempunyai risiko besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal.
Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:
·         Sakit kepala
·         Kelelahan
·         Mual
·         Muntah
·         Sesak nafas
·         Gelisah
·         Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
·         Sering buang air kecil terutama di malam hari
·         Telinga berdenging
d)      Faktor Penyebab Terjadinya Hipertensi
1.      Umur
                Menurut (Rahajeng & Tuminah, 2009), Hasil analisis mendapatkan faktor umur mempunyai risiko terhadap hipertensi. Semakin meningkat umur responden semakin tinggi risiko hipertensi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian lainnya yaitu, penelitian Zamhir Setiawan, yang menemukan bahwa prevalensi hipertensi makin meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur, disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi kaku, sebagai akibat adalah meningkatnya tekanan darah sistolik
2.      Jenis kelamin
            Tingginya risiko pria untuk mengalami hipertensi sebagaimana yang ditemukan dari hasil analisis ini, sejalan dengan temuan Zambir Setiawan. Pria lebih banyak mengalami kemungkinan hipertensi dari pada wanita, seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat (merokok dan konsumsi alkohol), depresi dan rendahnya status pekerjaan, perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran (Rahajeng & Tuminah, 2009).
3.      Merokok
            Menurut (Rahajeng & Tuminah, 2009) terhadap penelitian yang dilakukannya mengungkapkan bahwa, Hasil analisis lanjut Riskesdas 2007 ini mendapatkan faktor merokok yang berisiko terhadap hipertensi adalah pernah merokok, yang artinya perilaku merokok dilakukan responden beberapa waktu sebelumnya. Hal ini menunjukkan pengaruh merokok terhadap hipertensi baru ditemukan setelah beberapa waktu kemudian. Risiko ini terjadi akibat zat kimia beracun, misalnya nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses artereosklerosis dan tekanan darah tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan adanya arterosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen otot jantung.
4.      Pola Makan
            Pengaruh pola makan kemungkinan berkaitan dengan kegemukan. Menurut Sunyer, kelompok obes dan hiperkolesterol serta konsumsi minuman berkafein mempunyai risiko hipertensi yang lebih tinggi (2,9 kali dan 3,2 kali) dibandingkan yang normal. Risiko hipertensi pada mereka yang obes ditemukan pada penelitian ini (Rahajeng & Tuminah, 2009).

e)      Faktor resiko Hipertensi
Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan serta faktor yang tidak dapat dimodifikasi.
1)      Faktor yang tidak dapat dimodifikasi atau dikendalikan
(a)   Genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga tersebut mempunyai resiko menderita hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.
(b)   Jenis Kelamin
Laki-laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal. Laki-laki juga mempunyai resiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Sedangkan di atas umur 50 tahun hipertensi lebih banyak terjadi pada perempuan.
(c)   Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun dalam orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap vasopresin lebih besar.
(d)   Penyakit Ginjal
Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara :
·         Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal.
·         Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal.
·         Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.
(e)   Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan seperti beberapa obat hormon (Pil KB), Kortikosteroid, Siklosporin, Eritropoietin, Kokain, dan Kayu manis (dalam jumlah sangat besar), termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflamasi) secara terus menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi.
(f)    Preeklampsi pada kehamilan
Preeklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi. Preeklamsi terjadi sebagai akibat dari gangguan fungsi organ akibat penyempitan pembuluh darah secara umum yang mengakibatkan iskemia plasenta (ari-ari) sehingga berakibat kurangnya pasokan darah yang membawa nutrisi ke janin.
(g)   Keracunan timbal akut
Timbal bisa menyebabkan lesi tubulus proksimalis, lengkung henle, serta menyebabkan aminosiduria, sehingga timbul kelainan pada ginjal (Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal) bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.
2)      Faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan
(a)   Stress
Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatik. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.
(b)   Obesitas
Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan  tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun normotensi. Pada populasi yang tidak ada peningkatan berat badan seiring umur, tidak dijumpai peningkatan tekanan darah sesuai peningkatan umur. Obesitas terutama pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut.
(c)   Nutrisi
Sodium adalah penyebab penting dari hipertensi esensial, asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah. Asupan garam tinggi yang dapat menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi adalah lebih dari 14 gram per hari atau jika dikonversi kedalam takaran sendok makan adalah lebih dari dua sendok makan.
(d)   Merokok
Penelitian terakhir menyatakan bahwa merokok menjadi salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi. Merokok merupakan faktor risiko yang potensial untuk ditiadakan dalam upaya melawan arus peningkatan hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia.
(e)   Kurang olahraga
Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga) bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan.
f)       Patofisiologi Hipertensi
Aldosteron merupakan  hormon  steroid  yang memiliki  peranan  penting  pada  ginjal. Untuk mengatur volume  cairan  ekstraseluler,  aldosteron  akan  mengurangi  ekskresi  NaCl  (garam)  dengan cara  mereabsorpsinya  dari  tubulus  ginjal.  Naiknya  konsentrasi  NaCl  akan  diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah (Anggraini, 2008)




Tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem sirkulasi dilakukan oleh aksi memompa dari jantung (cardiac output/CO) dan dukungan dari arteri (peripheral resistance/PR). Fungsi kerja masing-masing penentu tekanan darah ini dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor yang kompleks. Hipertensi sesungguhnya merupakan abnormalitas dari faktor-faktor tersebut, yang ditandai dengan peningkatan curah jantung dan / atau ketahanan periferal. Selengkapnya dapat dilihat pada bagan.
g)      Komplikasi Hipertensi
Menurut Corwin (2007) komplikasi dari hipertensi adalah sebagai berikut:
1)      Stroke
Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga aliran darah ke otak yang diperdarahi berkurang. Arteri otak yang mengalami aterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma.
2)      Infark miokard
Dapat terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk thrombus yang menghambat aliran darah yang melewati pembuluh darah. Pada hipertensi kronis dan hipertropi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat menjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga, hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan risiko pembentukan bekuan.
3)      Gagal ginjal
Dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah ke unit fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerulus, protein akan keluar melalui urine sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang dan menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada hipertensi kronis.
4)      Ensefalopati (kerusakan otak)
Dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat, cepat, dan berbahaya). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke ruang interstisial di seluruh susunan saraf pusat. Neuron- neuron disekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian.
5)      Kejang
Dapat terjadi pada wanita preeklamsi. Bayi yang lahir mungkin memiliki berat lahir kecil pada masa kehamilan akibat perfusi plasenta yang tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosis jika ibu mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan.
h)      Penatalaksanaan Hipertensi
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
1)      Terapi tanpa obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat meliputi :
(a)   Diet, diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
·         Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
·         Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
·         Penurunan berat badan
·         Penurunan asupan etanol
·         Menghentikan merokok
·         Diet tinggi kalium
(b)   Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai 4 prinsip yaitu :
·         Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain.
·         Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Denyut nadi maksimal dapat ditentukan dengan rumus 220 – umur.
·         Lamanya latihan berkisar antara 20–25 menit berada dalam zona       latihan.
·         Frekuensi latihan sebaiknya 3x perminggu dan paling baik 5x perminggu.
(c)   Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
(1)   Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.  Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
(2)   Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks.
(3)   Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan)
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
2)      Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.
(a)   Pengobatannya meliputi :
(1)   Step 1 : Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor.
(2)   Step 2 : Alternatif  yang bisa diberikan
·         Dosis obat pertama dinaikan
·         Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
·         Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika, beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
(3)   Step 3 : alternatif yang bisa ditempuh
·         Obat ke-2 diganti
·         Ditambah obat ke-3 jenis lain
(4)   Step 4 : alternatif pemberian obatnya
·         Ditambah obat ke-3 dan ke-4
·         Re-evaluasi dan konsultasi
(b)   Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut:
(1)   Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya
(2)   Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya
(3)   Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh, namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas
(4)   Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter
(5)   Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu
(6)   Sedapat mungkin tindakan terapi dan diet hipertensi dimasukkan dalam cara hidup penderita
(7)   Ikut sertakan keluarga penderita dalam proses terapi
(8)   Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari
(9)   Diskusikan dengan penderita tentang makanan pantangan, obat-obat anti hipertensi, efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi
(10) Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal

1.      Retensi Urine
a)      Definisi Retensi Urine
     Retensio  urine  adalah  suatu  gangguan  buang  air  kecil,  dimana  terjadi  lemahnya  pancaran  urine,  tidak lancar  serta  rasa  ada  yang  tersisa  dan  tidak  puas,  dapat  disertai keinginan untuk  mengedan  atau  memberikan  tekanan  pada  suprapubik  saat  buang  air kecil.  Volume  urine  didalam  vesika  urinaria  lebih  dari  200  ml.  Angka  terjadinya  retensi urine potpartum berkisar 1,7 sampai dengan 17,9 %. Perubahan fisik yang fisiologis saat kehamilan berlangsung, paritas, epidural anastesi, lama persalinan dan cara  persalinan merupakan predisposisi terjadinya gangguan berkemih (retensio urine)  Serta episiotomi (p=0,017), tindakan dalam persalinan (38%), durasi persalinan(p<0,001),  berat badan bayi saat dilahirkan(p<0,001),  paritas(p=0,05)  merupakn faktor resiko penyebab yang berhubungan  dengan  retensio  urine.    Retensio  urine  dapat  mengakibarkan  timbulnya infeksi  traktur  urinarius  yang  rekuren  dengan  kemungkinan  gangguan  pada  traktur urinarius  bagian  atas (Padlilah, 2017).
Retensi urine adalah tertahannya urine di dalam kandung kemih, dapat terjadi secara akut maupun kronik. Pada keadaan akut, berkemih berhenti secara mendadak dimana pasien tiba-tiba tidak bias berkemih. Dalam keadaan kronik, retensi urine terjadi akibat adanya obstruksi yang terus menerus pada uretra
Retensi urine didefinisikan sebagai ketidakmampuan berkemih. Retensi urine akut adalah ketidakmampuan berkemih tiba-tiba pada keadaan kandung kemih yang nyeri.Retensi urine kronis adalah keadaan kandung kemih yang membesar, penuh, tidak nyeri dengan atau tanpa kesulitan berkemih.
Retensi urine (baik yang akut maupun kronis) merupakan ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut
b)      Etiologi Retensi Urine
Adapun penyebab dari penyakit retensio urine adalah sebagai berikut:
1)      Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinallis S2 S4 setinggi T12L1.Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya, misalnya pada operasi miles dan mesenterasi pelvis, kelainan medulla spinalis, misalnya miningokel,tabes doraslis, atau spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat.
2)      Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada pasien DM atau penyakit neurologist, divertikel yang besar.
3)      Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil,tumor pada leher vesika, atau fimosis.
4)      Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran porstat, kelainan patologi urethra(infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih.
5)      Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine), preparatantidepressant antipsikotik (Fenotiazin), preparat antihistamin (Pseudoefedrin hidroklorida= Sudafed), preparat penyekat ÃŽ² adrenergic (Propanolol), preparat antihipertensi(hidralasin)
6)      Penyebab retensi urine akut:
·         Anak-anak: nyeri abdomen, obat-obatan.
·         Anak muda: pasca operasi, obat-obatan, ISK akut, trauma, hematuria.
·         Usia lanjut: akut pada retensi urine kronis dengan BPH, tumor, pasca operasi.
7)      Penyebab retensi urine kronis adalah:
·         Anak-anak: kelainan congenital.
·         Anak muda: trauma, pasca operasi.
·         Usia lanjut: BPH, striktur, karsinoma prostat.
c)      Manifestasi Klinis Retensi Urine
      Pada retensi urine akut ditandai dengan nyeri, sensasi kandung kemih yang penuh dan distensi kandung kemih ringan. Pada retensi kronis ditandai dengan gejala-gejala iritasi kandung kemih (frekuensi, disuria, volume sedikit), atau tanpa nyeri, distensi yang nyata. Adapun tanda dan gejala atau menifestasi klinis pada penyakit iniadalah sebagai berikut:
1)      Diawali dengan urine mengalir lambat.
2)      Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena pengosongan kandung kemih tidak efisien.
3)      Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih.
4)      Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK.
5)      Pada retensi berat bias mencapai 2000 -3000 cc.
d)      Faktor Risiko Retensi Urine
      Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang mengalami inkontinensia urine semakin meningkat. Selain itu, ada juga faktor lain yang bisa memicu terjadinya kondisi tersebut, yaitu konsumsi obat tertentu, seperti obat darah tinggi, obat anti-nyeri, dan beberapa golongan obat penenang. Kondisi fisiologis yang menurun juga beberapa penyakit seperti pembesaran prostat, infeksi saluran kemih dapat menjadi faktor risiko terjadinya inkontinensia urin.
      Dibanding pria, wanita lebih rentan mengalami inkontinensia urine karena memiliki saluran kemih lebih pendek. Sedangkan pria yang mengidap pembesaran prostat lebih berisiko mengalami inkontinensia urine.
e)      Patofisiologi Retensi Urine
      Pada retensi urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat dan factor lainnya seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya. Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supra vesikal berupa kerusakan pusat miksi di medulla spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis dan parasimpatis sebagian atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot detrusor yang mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal, vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang.  Intravesikal berupa hipertrofi prostate, tumor atau kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil menyebabkan obstruksi urethra sehingga urine sisa meningkat dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensi abdomen.
      Factor obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan tekanan darah, menurunkan filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan produksi urine menurun. Factor lain berupa kecemasan, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya yang dapat meningkatkan tensi otot perut, peri anal, spinkter anal eksterna tidak dapat relaksasi dengan baik. Dari semua factor di atas menyebabkan urine mengalir labat kemudian terjadi poliuria karena pengosongan kandung kemih tidak efisien. Selanjutnya terjadi distensi bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya berupa kateterisasi urethra.
f)       Komplikasi Retensi Urine
      Urine yang tertahan di dalam saluran kencing berpotensi menimbulkan infeksi dan batu saluran kemih. Selain itu, retensi urine akan menyebabkan peningkatan tekanan kandung kemih yang selanjutnya juga mempengaruhi ureter dan ginjal. Kandung kemih akan bekerja lebih keras secara terus menerus untuk mengeluarkan urine.
      Hingga akhirnya otot kandung kemih menjadi lemah dan dapat terbentuk kantong-kantong (divertikel) yang berisiko infeksi.
Tekanan akan diteruskan ke saluran ureter dan ginjal yang akan membengkak (hidroureter dan hidronefrosis). Jika keadaan ini akan berlanjut dengan gangguan fungsi ginjal. Hal ini disebabkan tekanan yang sampai pada ginjal akan merusak sel-sel ginjal (nefron). Bila tidak ditangani, gangguan fungsi ginjal ini akan berakhir pada gagal ginjal terminal.
g)      Penatalaksanaan Retensi Urine
      Untuk retensi urine dilakukan kateterisasi uretra, dilatasi uretra dengan bougi, dan drainase supra pubik.
1)      Kateterisasi urine: memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra.
2)      Fungsi:
·         Mengeluarkan air kemih
·         Mengosongkan kandung kemih untuk suatu pemeriksaan dan persiapan operasi.
·         Menampung air kemih.
3)      Indikasi:
·         Pasien yang mengalami retensi urine.
·         Pasien yang perlu pemeriksaan urine steril.
·         Pasien yang akan dilakukan foto daerah kandung kemih.
·         Persiapan pasien:
·         Pasien diberitahu mengenai tindakan yang akan dilakukan.
·         Menjaga privasi dan rasa aman pasien.
·         Atur posisi tidur pasien dengan cara menekuk kedua lutut
4)      Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada retensio urine adalah sebagai berikut:
·         Kateterisasi urethra
·         Dilatasi urethra dengan boudy.
·         Drainage suprapubik































DAFTAR PUSTAKA

Sipriyani, L. N. E. (2019). RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIDIABETES PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DISERTAI HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD Ir. SOEKARNO SUKOHARJO TAHUN 2018 (Doctoral dissertation, Universitas Setia Budi).
Raden N. (2017). Retensi Urine. SCRIBD.
Tri Meiyana, K. (2015). Hipertensi. Academia.
Nuari, N. A., & Widayati, D. (2017). Gangguan Pada Sistem Perkemihan & Penatalaksanaan Keperawatan. Deepublish.
Padlilah, R. (2017). KAJIAN RETENSIO URINE PASCA SALIN PERVAGINAM. Jurnal Borneo Saintek, 1(1), 44–48.
Rahajeng, E., & Tuminah, S. (2009). Prevalensi hipertensi dan determinannya di Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia, 59(12), 580–587.
Suharyanto, T., & Madjid, A. (2009). Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem perkemihan. Trans Info Media, Jakarta.



Komentar

  1. Ica Cres Diana_P17220194062 Apa yang menjadi penyebab atau faktor seseorang yg berjenis kelamin laki-laki memiliki risiko lebih awal mengalami hipertensi? Dan mengapa perempuan yang berusia diatas 50 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba dijawab pertanyaan ini elly, latifatul, fajar,valina

      Hapus
    2. Penyebab atau faktor seorang laki laki memiliki risiko lebih awal mengalami hipertensi adalah karena laki laki lebih banyak melakukan kebiasaan kebiasaan atau pola hidup yang tidak sehat yang bisa menimbulkan hipertensi seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, sering marah marah/pemarah,stress, terlalu banyak mengonsumsi garam,kekurangan kalium, kelebihan berat badan, faktor keturunan,kurang aktivitas fisik, dll.
      Sedangkan pada perempuan yang berusia diatas 50 tahun, mengapa memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi. Salah satunya karena pengaruh hormon esterogen dimana hormon tersebut melindungi perempuan dari penyakit hipertensi dan serangan jantung, seiring bertambahnya usia produksi hormon esterogen akan mengalami penurunan sehingga fungsi perlindungan hormon ini juga akan menurun. Faktor lain diantaranya yaitu menopause, gaya hidup serta pola makan.

      Hapus
  2. Sudah cukup bagus materi yang disampaikan. Masukan:
    anatomi sistem ginjal lebih bagus jika menggunakan gambar
    penulisan di blog dibuat lebih rapi dan menarik
    masih ada penulisan yang salah/typo
    Daftar pustaka kurang banyak dan sebaiknya sebagian menambahkan dari buku ajar/ artikel jurnal yang bisa didapat gratis di google schoolar.
    Secara Umum sudah baik
    good job!

    BalasHapus

Posting Komentar